BURUKNYA LITERASI DI ERA DIGITAL: TANTANGAN, PENYEBAB, DAN SOLUSI TERBAIK
Literasi pada dasarnya adalah kemampuan manusia untuk memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara bermakna. Dalam konteks modern, literasi tidak lagi terbatas pada membaca dan menulis, melainkan mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, serta menilai kebenaran informasi. Kemampuan ini menjadi semakin penting ketika dunia bergerak ke arah digital yang serba cepat dan terbuka.
Ironisnya, kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh peningkatan kualitas literasi. Akses informasi yang luas justru sering melahirkan kebingungan, kesalahpahaman, dan penyebaran informasi keliru. Banyak individu mampu mengakses data dalam hitungan detik, tetapi kesulitan memahami makna di baliknya.
Buruknya literasi di era digital bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah struktural yang memengaruhi cara masyarakat berpikir dan bertindak. Ketika literasi melemah, diskursus publik kehilangan kedalaman, keputusan diambil tanpa pertimbangan matang, dan konflik sosial mudah tersulut.
Selain menjadi pekerjaan rumah bagi masing-masing individu, tentunya butuh kerja sama antarpihak agar ekosistem dalam dunia literasi bisa terus terjaga secara berkesinambungan.
Gambaran Literasi di Era Digital
Era digital ditandai oleh arus informasi yang mengalir tanpa henti. Setiap hari, masyarakat dihadapkan pada berita, opini, dan data dari berbagai sumber dengan tingkat kredibilitas yang beragam. Kondisi ini menuntut kemampuan literasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya.
Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkembang. Di sisi lain, tanpa kecakapan literasi yang memadai, informasi justru menjadi beban kognitif. Banyak orang membaca secara sepintas, mengandalkan judul atau potongan teks tanpa memahami isi secara menyeluruh. Bahkan hal buruk itu diperparah dengan adanya kemampuan dalam tata bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Alibi klasik sering dijadikan alat pembenaran oleh penulis atau kreator bersangkutan, “Yang penting bisa dibaca.” Celakanya lagi, tak ada yang berani menegur bahkan terkesan membiarkan hal itu terjadi. Pakar bahasa tampak diam. Para penulis pura-pura buta dan hanya sibuk pada karir dan eksistensi berkarya.
Kebiasaan membaca cepat dan dangkal membentuk pola pikir instan. Informasi diperlakukan sebagai komoditas yang dikonsumsi sesaat, bukan sebagai pengetahuan yang perlu direnungkan. Akibatnya, pemahaman mendalam semakin jarang ditemui.
Dalam situasi ini, literasi kehilangan perannya sebagai alat pembebasan intelektual. Ia berubah menjadi aktivitas pasif yang sekadar mengikuti arus, tanpa proses evaluasi dan refleksi yang seharusnya menyertainya.
Faktor Penyebab Buruknya Literasi
Salah satu penyebab utama rendahnya literasi adalah banjir informasi tanpa penyaring yang jelas. Setiap individu dapat menjadi produsen konten, sementara mekanisme verifikasi sering kali diabaikan. Informasi valid bercampur dengan kepalsuan dan opini subjektif.
Selain itu, budaya membaca yang lemah memperparah kondisi ini. Banyak orang lebih memilih konten singkat dan visual dibandingkan bacaan panjang yang menuntut konsentrasi. Kebiasaan ini mengurangi kemampuan memahami teks kompleks dan argumen mendalam.
Sistem pendidikan juga berkontribusi terhadap masalah literasi. Pembelajaran yang menekankan hafalan dan capaian nilai belum sepenuhnya mendorong pemahaman konseptual dan kemampuan berpikir kritis. Literasi digital sering kali belum diajarkan secara sistematis. Bahkan lebih ironisnya lagi, kemampuan literasi para pengajar juga sangat minim bahkan sama-sama buruknya.
Pengaruh media sosial dan algoritma turut memperburuk keadaan. Konten yang memicu emosi lebih mudah viral dibandingkan informasi yang akurat. Lingkungan ini mendorong reaksi cepat, bukan pemikiran matang.
Dampak Buruk Literasi bagi Masyarakat
Rendahnya literasi berdampak langsung pada kualitas diskursus publik. Perbedaan pendapat sering berujung pada konflik karena tidak didasarkan pada pemahaman yang sama. Argumen emosional lebih dominan daripada penalaran berbasis data.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadi rentan terhadap manipulasi informasi. Isu sensitif mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, sementara klarifikasi sering kalah cepat dibandingkan penyebaran kabar keliru.
Dampak jangka panjangnya terlihat pada kualitas sumber daya manusia. Individu dengan literasi rendah cenderung kesulitan memecahkan masalah kompleks dan beradaptasi dengan perubahan. Inovasi pun terhambat karena kurangnya pemahaman mendalam.
Secara kolektif, buruknya literasi melemahkan fondasi demokrasi dan pembangunan sosial. Keputusan publik yang tidak berbasis pengetahuan berisiko menimbulkan kerugian luas.
Langkah Perbaikan Literasi Sejak Dini
Perbaikan literasi harus dimulai sejak usia dini melalui pembiasaan membaca dan berdiskusi. Anak-anak perlu dikenalkan pada bacaan yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka, disertai pendampingan yang mendorong rasa ingin tahu.
Literasi tidak boleh dipaksakan sebagai kewajiban semata. Ketika membaca dipersepsikan sebagai aktivitas menyenangkan, anak akan lebih terbuka terhadap proses belajar dan eksplorasi pengetahuan.
Peran orang tua sangat penting dalam tahap ini. Keteladanan membaca dan kebiasaan berdialog di rumah membentuk sikap positif terhadap literasi sejak awal kehidupan.
Fondasi yang kuat pada masa kanak-kanak akan mempermudah pengembangan literasi yang lebih kompleks di jenjang berikutnya.
Reformasi Pendidikan Berbasis Pemahaman
Pendidikan perlu bertransformasi dari pendekatan hafalan menuju pembelajaran berbasis pemahaman. Peserta didik harus dilatih untuk menganalisis, menyimpulkan, dan mengemukakan pendapat secara logis.
Literasi digital harus menjadi bagian integral kurikulum. Peserta didik perlu memahami cara memverifikasi informasi, mengenali bias, dan menggunakan teknologi secara etis.
Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong diskusi dan pemikiran kritis. Ruang kelas seharusnya menjadi tempat aman untuk bertanya dan berdebat secara sehat, bukan sekadar jadi ajang siapa yang mendapat nilai tinggi namun minim adab dan literasi.
Dengan pendekatan ini, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga individu yang matang secara intelektual.
Peran Media dan Teknologi Digital
Media memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola literasi masyarakat. Cara informasi disajikan menentukan cara publik memahami realitas. Akurasi dan konteks seharusnya menjadi prioritas utama. Sayangnya, media lebih fokus pada urusan bisnis serta popularitas semu.
Sensasionalisme memang menarik perhatian, tetapi dampaknya tentu merusak kualitas literasi. Judul yang menyesatkan dan informasi setengah matang memperparah kebingungan publik.
Platform digital juga perlu bertanggung jawab atas algoritma yang digunakan. Transparansi dan dukungan terhadap konten edukatif dapat membantu menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Bukan malah ikut arus hanya karena alasan popularitas semata.
Ketika media dan teknologi berpihak pada kualitas, literasi publik memiliki ruang untuk tumbuh. Bukan sebaliknya yang justru menjadi garda depan pembunuh literasi itu sendiri.
Tanggung Jawab Kolektif Berbagai Pihak
Pemerintah memiliki peran strategis dalam menyediakan kebijakan pendidikan dan akses bacaan yang merata. Investasi pada perpustakaan dan program literasi adalah langkah penting.
Lembaga pendidikan bertanggung jawab memastikan proses belajar mendorong pemahaman dan nalar kritis. Evaluasi tidak hanya berfokus pada nilai, tetapi juga pada proses berpikir.
Keluarga dan komunitas membentuk lingkungan sosial yang memengaruhi kebiasaan literasi. Dukungan dan keteladanan menjadi kunci utama.
Masyarakat secara keseluruhan perlu menjaga kualitas diskursus publik agar literasi tidak terus tergerus.
Menuju Generasi yang Lebih Literat
Buruknya literasi di era digital bukanlah kondisi yang tidak dapat diubah. Ia merupakan hasil dari kebiasaan kolektif yang dapat diperbaiki melalui upaya bersama.
Dengan membangun budaya membaca, memperkuat pendidikan, dan memanfaatkan teknologi secara bijak, generasi mendatang dapat tumbuh lebih kritis dan bertanggung jawab.
Literasi yang kuat membantu individu memahami dunia dengan lebih jernih dan membuat keputusan yang lebih baik. Ia menjadi kompas di tengah derasnya arus informasi.
Ketika literasi ditempatkan sebagai nilai utama, kemajuan teknologi akan benar-benar memberi manfaat bagi kehidupan manusia.[]

