LITURGI DARI TEPI - Anam Khoirul Anam - Anam Khoirul Anam Official -->

LITURGI DARI TEPI - Anam Khoirul Anam

Aku tiba di Yogyakarta tahun 2003 dengan bus antarkota yang kursinya bau solar dan doa-doa basi. Bus itu berangkat dari Madiun saat malam belum sepenuhnya yakin ingin berakhir, dan sepanjang perjalanan aku lebih banyak terlempar oleh guncangan daripada oleh harapan. Orang-orang di dalamnya tidur dengan mulut terbuka, seolah percaya bahwa masa depan bisa diraih sambil mendengkur.

Aku tidak tidur. Sesekali kuhitung uang di saku, seperti menghitung detak jantung orang sakit. Memastikan bahwa uang itu tak dicuri sekawanan copet di sepanjang jalan keberangkatan. Jumlahnya memang tidak berubah, tetapi kecemasanku bertambah. Uang itu hanya cukup untuk ongkos dan makan beberapa hari. Setelah itu, hidup harus kreatif, atau malah berubah lebih kejam pada orang-orang yang kelaparan.

Terminal Giwangan menyambutku dengan bau keringat, solar, dan sisa ambisi yang tumpah di lantai. Aku turun dari bus laiknya orang asing. Tidak ada yang menungguku. Tidak ada yang tahu aku ada. Aku berdiri di antara koper-koper orang lain dan merasa seperti kesalahan logistik.

Aku membawa satu alamat. Ditulis oleh teman asrama dulu, dengan tinta yang hampir pudar karena tanpa kuketahui kain sakuku basah entah karena apa. Orang di alamat itu tidak pernah kukenal. Tapi aku mempercayai alamat itu pasti mengantarku pada satu titik henti. Aku percaya menemui orang tanpa kenal sebelumnya seperti orang tenggelam mempercayai kayu lapuk. Bukan karena yakin, melainkan karena tidak ada pilihan lain. Tak berhenti sampai di situ, tukang becak pun turut andil memperpanjang rute jalanku. Seharusnya cukup menyeberang jalan untuk sampai di tujuan, tukang becak itu ambil rute berputar lebih jauh dari semestinya. Konsekuensinya, uangku harus lebih banyak keluar untuk membayar ketidaktahuanku kala itu.

Rumah itu berada di gang sempit, seolah sengaja disembunyikan dari peta kehidupan yang layak. Temboknya retak, pintunya berderit seperti enggan dibuka. Aku diterima tanpa sambutan. Tatapan tuan rumah singkat, dingin, dan jujur: aku boleh tinggal, asal tidak menjadi beban.

Aku diberi ruang sekecil keputusan-keputusan hidupku. Sepetak lantai. Tikar tipis. Atap yang bocor saat hujan. Ruang itu lebih mirip pengingat daripada tempat tinggal: pengingat bahwa hidup bisa menyusut sampai ukuran tubuh yang meringkuk.

Hari-hari pertamaku di Yogyakarta adalah pelajaran tentang lapar yang tidak romantis. Lapar tidak mengajarkan apa-apa selain kesabaran yang dipaksa. Aku makan seadanya, kadang tidak makan sama sekali. Aku minum air putih seperti menelan harapan dengan rasa tawar.

Aku masih salat. Masih berdoa. Tapi doaku sudah berubah nada. Tidak lagi seperti permohonan anak kepada orang tua, melainkan seperti laporan kerugian kepada atasan yang tidak pernah hadir. Aku melafalkan ayat-ayat dengan hafalan yang rapi dan hati yang berantakan.

Aku bekerja apa saja. Mengangkat barang. Menjaga toko. Menjadi kru acara musik dengan bayaran yang sering kali tidak sebanding dengan lelah. Tenagaku murah, karena aku tidak punya daya tawar selain bertahan hidup. Aku menerima semuanya dengan senyum tipis yang kupelajari dari orang-orang tak punya pilihan.

Di malam hari, di ruang sempit itu, aku sering duduk memandang dinding. Aku bertanya-tanya, sejak kapan iman berubah menjadi rutinitas kosong. Kapan Tuhan bergeser dari pusat hidup menjadi sekadar konsep yang diwariskan, dipelihara karena takut ditinggalkan sepenuhnya.

Aku masuk kuliah dengan sisa keyakinan bahwa pengetahuan akan menyelamatkanku. Kampus menyambutku dengan jargon, teori, dan janji masa depan. Aku duduk di kelas dengan perut kosong dan kepala penuh keraguan. Dosen bicara tentang cita-cita, sementara aku sibuk menghitung hari sampai uangku habis.

Di sanalah aku bertemu dengannya. Seorang gadis bersuara lembut, tenang, dan tatap mata sayu. Kami tidak jatuh cinta secara dramatis. Kami hanya saling hadir. Duduk bersebelahan. Berbagi catatan. Tertawa kecil pada hal-hal remeh.

Cinta kami tidak punya rencana. Tidak punya arah. Ia tumbuh seperti lumut di dinding lembap: pelan, diam-diam, dan tidak ditujukan untuk bertahan lama. Bersamanya, aku bisa lupa sejenak bahwa hidupku sedang runtuh perlahan.

Percayalah bahwa cinta tidak bisa menggantikan uang. Tidak bisa membayar makan. Tidak bisa menenangkan iman yang mulai rusak. Tekanan ekonomi semakin menyesakkan dada. Aku sering melewatkan kelas demi kerja. Sesekali namaku muncul di media lokal maupun nasional. Energiku terpecah jadi dua arah. Aku menjalankan ibadah dengan tubuh lelah dan hati nan sinis.

Aku mulai merasa Tuhan adalah ide yang terlalu mahal untuk orang sepertiku. Terlalu jauh. Terlalu sunyi. Aku tidak membenciNya. Aku hanya tidak tahu lagi harus berbicara bagaimana ketika fakta dan logika keimanan harus saling beriringan dalam satu waktu dan keputusan. Doaku menjadi monolog yang tidak menunggu jawaban.

Suatu malam, aku duduk di ruang sempit nan gelap. Aku mematikan lampu, seolah cahaya hanya akan memperjelas kekosongan. Aku tidak berdoa. Aku juga tidak berhenti percaya. Aku berada di wilayah abu-abu, tempat iman tidak mati, tetapi juga tidak hidup.

Sejak malam itu, ibadahku menjadi semacam seni instalasi: sunyi, berulang, dan tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan apa pun. Aku melakukannya agar tidak hancur sepenuhnya. Agar masih ada ritme dalam hidup yang kacau. Aku tinggalkan Tuhan untuk beberapa masa, meski setelah pergolakan batin dan proses menemukan hakikat hidup, pemahaman membawaku kembali lagi padaNya.

Cobaan tidak berhenti. Gadis itu pergi. Memilih laki-laki yang lebih mapan, lebih selesai dengan hidupnya. Aku mengerti bahwa tak ada paksaan untuk saling mencintai apalagi sampai memiliki. Cinta tidak bertahan di atas ketidakpastian yang terus-menerus. Aku kehilangan tanpa sempat menggenggam erat. Tak ada kesedihan atas kepergian.

Kuliah pun berhenti. Idealisme dan kebutuhan hidup saling membunuh. Aku keluar tanpa upacara. Tanpa perpisahan. Aku gagal, tetapi kegagalan itu terasa wajar, seperti kelanjutan logis dari hidup yang tidak pernah ramah.

Aku kembali bekerja serabutan. Ikut festival musik. Jual buku. Membuat kerajinan kecil yang jarang laku. Semua usaha terasa seperti cara menunda kehancuran, bukan membangun masa depan. Aku bergerak agar tidak diam, karena diam terlalu mengusik dan amat berisik.

Aku tidak lagi bertanya apakah Tuhan adil. Pertanyaan itu terasa naif. Aku juga tidak mengatakan bahwa aku tidak percaya. Aku hidup di antara dua jurang: iman yang retak dan nihilisme yang menakutkan.

Suatu sore, aku kembali ke terminal. Aku membeli tiket bus tanpa benar-benar membaca tujuan. Aku hanya ingin bergerak. Duduk di bangku keras, mendengar pengumuman keberangkatan yang terdengar seperti daftar kemungkinan hidup.

Ketika bus melaju, aku menatap keluar jendela. Lampu kota memudar. Yogyakarta menghilang tanpa pamit. Aku tidak tahu apakah aku pergi sebagai orang beriman atau sebagai orang yang kehilangan Tuhan.

Di dalam bus yang bergetar, dengan bau solar dan dengung mesin, aku menutup mata. Jika Tuhan ada, mungkin Ia memilih diam. Jika tidak, mungkin hidup memang harus dijalani tanpa sandaran.

Bus terus melaju. Aku tidak sampai ke mana pun. Dan mungkin, itulah satu-satunya kejujuran yang tersisa.

Aku masih di sini. Mengais hal-hal tak pasti. Aku masih berdiri, meski jauh di kedalaman diri ini ada reruntuhan yang entah akan kupugar kembali atau kubiarkan jadi puing berserakan tanpa arti.[]


Berlangganan update artikel terbaru via email:




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2


Iklan Bawah Artikel