NIRMAYRA - Anam Khoirul Anam - Anam Khoirul Anam Official -->

NIRMAYRA - Anam Khoirul Anam

Mereka dipertemukan di usia ketika hidup belum sepenuhnya menyingkap tabir perpisahan, tetapi keduanya sudah sama-sama terseret ke dalam arus ketiadaan jamah yang utuh dan penuh. Kedua anak yang kehilangan sosok ayah dalam kurun bersamaan.

Dua anak kecil itu duduk di bangku kayu yang sama, menatap jauh ke halaman hijau begitu luas di antara muram masa depan yang harus mereka tanggung. Meski sama-sama ada orang tua tunggal, namun keduanya tetap tak bisa memungkiri bahwa telah lebih dulu ditinggalkan, mewariskan rumah-rumah yang tetap berdiri di antara pergantian pancaroba, berdiri, tak jua roboh digerus masa.

Sejak hari itu, Sam dan Mayra tumbuh bersama dalam sunyi yang serupa. Tidak ada kesepakatan untuk saling menjaga, tidak ada janji yang diucapkan. Namun di antara mereka, ada pengertian yang tumbuh tanpa perlu diajarkan: bahwa tidak semua luka perlu diceritakan agar dimengerti. Tak perlu menyesali apalagi menangisi segala yang terjadi, meski sering kali diamuk cemburu saat melihat kebahagiaan dari keluarga lain yang masih utuh.

Sam adalah anak yang lebih cepat beradaptasi dengan keterdiaman daripada yang lain. Ia memahami dunia dengan mengamati, bukan dengan menguasai. Menikmati pedih hati secara diam-diam dan tersembunyi. Sedangkan Mayra adalah anak perempuan yang selalu tersenyum di antara puing kegetiran, seolah senyum adalah cara paling sopan untuk menutupi kehampaan di palung jiwa. Di mata Sam, Mayra adalah cahaya yang tak pernah meminta diselamatkan, meski sering berdiri sendirian dalam gelap. Namun nyala itu tak pernah padam meski tampak redup sepanjang siang dan malam.

Perasaan Sam tumbuh perlahan, seperti hujan yang jatuh ke tanah kering—tidak pernah ribut, tetapi meresap. Tak pernah meminta meski dikecam asa. Ia tahu sejak lama bahwa perasaannya bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga. Cinta, baginya, adalah kesediaan untuk tinggal meski tak pernah dipanggil.

Mayra tidak pernah menyadari itu. Ia menganggap Sam sebagai bagian dari masa kecil yang aman, tempat ia bisa kembali tanpa harus menjelaskan siapa dirinya. Ketika mereka beranjak dewasa, hidup membawa Mayra ke arah yang lebih ramai. Dunia mulai menagih: kapan menikah, kapan hidupnya dianggap berhasil, kapan ia berhenti sendiri. Pertanyaan klasik selalu mengusik dan goyahkan pendirian.

Tibalah ketika seorang laki-laki datang membawa janji dan masa depan yang terdengar mapan, Mayra menerima kehadiran itu meski diselimuti ragu. Ia tidak sepenuhnya jatuh cinta, tetapi ia ingin menentang fakta, lantas ia menyerahkan ragu itu pada laki-laki yang datang padanya dengan segala rasa percaya. Mungkin, kebahagiaan memang harus diperjuangkan melalui jalan yang umum serta dilalui bersama dengan orang yang menuntun langkah keluar dari ruang gelap.

Pernikahan pertamanya dimulai dengan alur cerita yang rapi. Semua berjalan normal dan baik-baik saja. Namun waktu membuka halaman demi halaman yang tak pernah ia duga. Suaminya adalah laki-laki yang pandai beralibi, tak sedikit pun sudi mendengarkan. Alkohol menjadi teman saat pulang, perempuan lain menjadi pelarian, dan amarah menjadi bahasa yang paling sering ia lontarkan. Makian adalah nada paling biasa masuk ke telinga lalu menjadi belati yang secara terus-menerus menyayat ulu hati.

Mayra belajar memahami bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk pukulan. Kadang ia hadir serupa kata-kata merendahkan, sebagai pengkhianatan yang diulang, sebagai hutang yang ditinggalkan tanpa rasa bersalah. Yang lebih menyakitkan, masyarakat memintanya bertahan, seolah penderitaan adalah harga yang pantas dibayar demi status seorang istri.

Talak pun dijatuhkan. Setelah perceraian, luka itu tidak berhenti mengejar. Mantan suaminya datang membawa perempuan lain, seakan ingin memastikan bahwa Mayra benar-benar runtuh. Dari pernikahan itu, Mayra dikaruniai seorang anak namun meninggal saat memasuki usia 3 tahun. Kandas menikah, lalu kehilangan anaknya. Rasanya hidup berlaku tak adil untuknya. Meski dituntut terus hidup, ia berjalan dengan keyakinan yang porak-poranda, berjalan bersama dengan makna cinta yang tak sempurna.

Sam mendengar semuanya dari kejauhan. Ia ingin datang, ingin mengatakan bahwa Mayra tidak sendirian. Namun ia menahan diri. Ia tahu, tidak semua kehadiran adalah pertolongan. Kadang cinta terbaik adalah tidak menambah beban.

Beberapa tahun berlalu. Mayra menikah lagi. Kali ini ia memilih laki-laki yang dikenal saleh. Di pernikahan kedua, ia berharap lelaki yang telah dipilih lebih baik dan bisa menjadi pelindung. Di awal tahun, semua tampak baik seperti pada umumnya sebuah hubusebuahKali ini memang terlihat lebih tenang dari luar, lebih diterima secara sosial. Namun tak ada yang tahu bagaimana kebenaran di dalamnya, Mayra kembali kehilangan ruang.

Suaminya terlalu yakin pada tafsirnya sendiri. Hidup diatur atas nama kebenaran. Mayra tidak dipukul, tetapi suaranya dibungkam perlahan. Setiap tanya dianggap perlawanan. Setiap keinginan dimentahkan dengan alasan tak masuk akal. Rumah itu penuh doa, tetapi miskin cinta dan kasih sayang.

Mayra bertahan demi anak-anaknya. Hingga suatu hari ia menyadari bahwa bertahan tanpa bahagia hanya akan mewariskan luka yang sama. Ia pergi, membawa dua anak dan keberanian yang tidak pernah dirayakan.

Setelah dua pernikahan yang gagal mewujudkan kebahagiaan hidupnya, Mayra bersumpah untuk tidak menikah lagi. Ia ingin hidup sederhana, membesarkan anak-anaknya dengan utuh, tanpa rasa takut. Ia ingin berdamai dengan dirinya sendiri di antara reruntuhan hidup di masa lalu dan peliknya jalan hidup di masa depan. Ia sudah hancur, dan lebih hancur lagi ketika ibu yang diharapkan menjadi rumah yang nyaman setelah lelah berjibaku di luar rumah justru tak memberi peluk hangat. Ia benar-benar seperti buangan.

Di masa suram seperti itulah Sam acap kali hadir. Tidak berubah. Tidak menuntut. Ia menerima Mayra dengan masa lalu yang tidak dapat disangkal keruntuhannya. Ia tahu persis bagaimana penderitaan Mayra.

Sam tetap menunggu. Bukan dengan harapan mendesak, melainkan dengan kesetiaan yang tenang. Ia tahu sumpah Mayra bukan penolakan terhadapnya, melainkan bentuk perlindungan diri.

Mayra tahu perasaan Sam. Ia merasakannya dari cara Sam hadir tanpa meminta balasan, cara ia mencintai tanpa ingin menguasai. Ada hari-hari ketika hatinya goyah. Namun ia memilih setia pada sumpahnya.

Pada suatu senja, mereka duduk di teras rumah. Anak-anak bermain, tertawa seperti doa yang dikabulkan pelan-pelan. Mayra menatap langit yang memerah, ia berkata lirih:

“Aku lelah mencari bahagia.”

Sam menjawab pelan, “Mungkin karena bahagia tidak pernah pergi. Kita saja yang terlalu jauh mencarinya.”

Di situlah klimaks hidup Mayra terjadi—bukan pada pernikahan, bukan pada perceraian, melainkan pada kesadaran.

Ia mengerti satu hal penting: Cinta yang dewasa tidak datang untuk dimiliki, tetapi untuk menjaga agar segalanya tak kehilangan arah dan bergeser hakikatnya.

Sam memahami bahwa menunggu bukan soal waktu, melainkan sikap batin. Mungkin memang seperti itulah takdir bekerja.

Mencintai seseorang bukan tentang berharap ia berubah, melainkan bersedia tetap baik meski ia tidak memilih untuk mengikat janji suci pernikahan.

Cinta tak pernah menjadi milik siapa pun. Tidak tercatat, tidak diumumkan, tak pula dirayakan. Namun ia hidup—tenang, jujur, dan utuh.

Dan mungkin, di dunia yang gemar memaksa akhir bahagia yang diamini oleh semua orang, ada luka-luka yang tak perlu dijelaskan sekadar ingin pengakuan. Ada trauma yang tak perlu dipahami sekadar menemukan perlindungan. Ada masa lalu yang hanya bisa dituturkan oleh sepasang hati di balik gelak tawa penuh dusta.

Keduanya telah sampai pada pemahaman, bahwa: Tidak semua cinta harus sampai pada ikrar pernikahan. Tidak semua kebersamaan harus diikat menjadi nyata. Dan tidak semua yang menunggu merupakan keputusan yang salah dan kalah—sebagian orang memilih berdamai dengan takdir dan pemahaman untuk berada di kedalaman dimensi setia.

Sam tidak pernah pergi. Ia tetap sedia, menjaga orang yang ia cintai—tanpa jamah ataupun noda yang tumpah.

Mayra pulang—pada dirinya sendiri. Membawa sunyi yang terus menghantui. Meski Sam bisa jadi rumah dari segala gundah, namun Mayra tetap ingin menjaga martabat agar tak terdampar di ruang fitnah bila sering bersandar di bahu Sam.[]

Yogyakarta, 24 Januari 2026


Berlangganan update artikel terbaru via email:




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2


Iklan Bawah Artikel