TERANG TANPA ARAH - Anam Khoirul Anam - Anam Khoirul Anam Official -->

TERANG TANPA ARAH - Anam Khoirul Anam

Di negeri yang hampir dilahap kabut gelap, dari kejauhan tampak sebuah kota yang mulai menyalakan lampu jalan dan penerang rumah. Kabut tebal terus merayap hingga menutupi sebagian atap permukiman warga. Lambat laun, suara makin susut. Redup. Kegelapan itu bukan karena lampunya padam, melainkan karena cahayanya tak lagi bermakna. Terang tanpa arah hanya menyisakan sunyi. Dari kejauhan panorama itu menampakkan banyak hal, tetapi semakin dekat justru tak ada yang membekas di dada selain memoar tiada pernah tuntas dikisahkan ulang.

Wiranadi hidup di kota itu sudah hampir 52 tahun. Meski terus berjalan, tenaga dan pikirannya tak pernah tidur dengan tenang. Ia bangun setiap pagi bukan karena harapan, melainkan karena ketakutan pada ketertinggalan dan penindasan. Ketakutan sering menyamar sebagai motivasi, namun gagal memberikan solusi. Ia bekerja, menghitung, mencatat, dan menghapus angka-angka yang terus kehilangan arti. Hidup yang direduksi menjadi statistik selalu berakhir beku. Setiap lembar uang di tangannya seperti janji yang dikhianati perlahan. Butuh jibaku selama sebulan untuk mendapatkannya, tapi segera ludes dalam hitungan jam.

Di dalam dirinya, pergolakan tak pernah selesai. Batin Wiranadi menyerupai ruang bawah tanah, secara terus-menerus dikeruk tanpa tahu apa yang dicari. Manusia sering menggali hanya untuk memastikan ada yang hilang tanpa tahu apa yang ingin ditemukan lagi. Tekanan hidup tak melumatnya, melainkan mengikisnya. Hari demi hari, ia mengelilingi waktu yang sama hingga lupa bentuk dirinya secara utuh dan menyeluruh. Lelah tak lagi dipedulikan. Apa yang ada dalam pikiran hanyalah cara menyelesaikan segala persoalan, terutama soal finansial. Sesekali menggerutu. Kesadaran mengantarkan pada sikap menerima ketentuan hidup tanpa melawan.

Di luar, kota memantik api yang sama. Sungai mengalir membawa kepalsuan tiran, udara mengabarkan pesan kematian, dan tanah dipaksa mengubur limbah harapan sebagai bentuk kepatuhan. Tak ada sabda alam yang terdengar bijak menuturkan kenyataan agar sumbat di dada itu segera lega. Kemajuan digaungkan secara lantang, namun aroma busuk dari wajah-wajah munafik penuh selidik menyusup tanpa terelakkan.

Wiranadi pernah mencoba percaya pada apa yang tersaji tiap hari. Ia duduk di antara warga, mendengar janji dilafalkan dengan mulut yang rapi namun tak pernah sampai di kepala apalagi terserap di kedalaman hati. Banyak orang tersihir atas janji manis, rencana-rencana masa depan ditaburkan namun gagal dituai buahnya, semua berhenti di kertas bahkan apa yang terjadi sekadar formalitas belaka. Dirayakan di atas perih dan diisap lagi lewat mulut serakah. Keadilan sering mental sebelum sampai di kalangan orang-orang tak berada. Korupsi memberangus senyum seluruh sendi kehidupan, bahkan skandal menjadi cara menawar paling manjur untuk menuntaskan berahi terhadap duniawi. Kejahatan terorganisir pun menjadi warisan yang dibudidayakan secara turun-temurun.

Hukum tidak buta, ia hanya memihak pada segelintir kuasa. Keadilan condong pada mereka yang mampu mengeluarkan isi kantong lebih banyak. Wiranadi sudah sangat familiar dengan hal semacam itu. Mereka yang kecil dan tak punya kuasa dihancurkan oleh aturan, sementara yang besar berlindung di balik celah hukum. Faktanya, sistem dirancang tidak untuk melindungi yang lemah, melainkan untuk memuaskan hasrat para pembeli keadilan.

Lebih ironis lagi, generasi muda tumbuh dengan kepala penuh suara dan dada kosong tanpa makna. Mereka cepat meniru, lambat memahami, dan mudah patah ketika realitas tak sejalan dengan keinginan. Begitu mudah dikendalikan oleh standar-standar hidup yang abu-abu. Mental rapuh tidak lahir tiba-tiba, ia terbentuk dari ekosistem yang buruk. Spiritualitas diringkas menjadi slogan, dan hidup disederhanakan agar muat di sebidang layar. Kini, etika dan moral terasa murah dan tak laku dijual. Harga diri diobral murah demi sensasi dan eksistensi.

Nilai mata uang runtuh seperti kepercayaan publik. Harga meroket tanpa malu, upah begitu rendah, dan setiap transaksi menjadi perang batin paling sengit. Kesemerawutan ekonomi bukan lagi teori, melainkan rasa sakit yang diciptakan tanpa empati. Menabung terasa seperti bercanda dengan masa depan yang tak pernah memberi kepastian. Menabung bukan lagi pangkal kaya, tapi menjadi bagian dari pintu masuk sekaligus lumbung bagi orang kaya memutar keuntungan. Uang yang tersimpan diracik kembali untuk mendapatkan hasil lebih banyak. Uang diubah bentuk digital begitu pula cara transaksinya. Uang hanyalah sederet angka. Uang fisik disematkan bagi orang-orang yang dianggap tertinggal.

Pendidikan berubah wajah menjadi pasar akademik. Sekolah menjual janji, kampus menawarkan status, dan ilmu dikemas seperti produk musiman secara instan, pengetahuan pun dipaksa tunduk pada laba. Anak-anak cerdas gugur satu per satu, bukan karena bodoh, melainkan karena miskin. Kecerdasan tanpa akses dan privilese hanyalah potensi tak berguna.

Agama bergema di seluruh penjuru kota dengan suara keras, namun jiwa-jiwa tipis tak hendak menggubris. Tokoh-tokohnya gila pengaruh, menyamakan kemewahan dengan berkah, lalu menukar keteladanan dengan sorotan bertabur pujian. Mirisnya lagi, iman pun bisa diperdagangkan. Para penganut beradu keyakinan tapi tak pernah menjalankan tuntunan iman. Nasihat dituturkan sambil melantur. Bicara tentang kesederhanaan tapi berkendara dengan kilau kemewahan. Inilah anomali dalam beragama. Faktanya, simbol sering kali menampakkan wajah lebih jujur daripada kata-kata dari balik mimbar.

Kini, rumah pun kehilangan fungsinya sebagai tempat pulang. Orang tua bekerja hingga lupa perubahan anaknya. Sebagian orang menganggap bahwa tanggung jawab dipahami sebagai pengorbanan total. Bekerja secara liar asal api dapur terus menggeliat. Anak-anak tumbuh tanpa cerita, tanpa sentuhan tulus. Banyak pemikiran bergeser tentang merawat anak, kehadiran tidak lagi penting. Semua bisa digantikan dengan materi. Padahal, sumber dari segala kerusakan itu berawal dari sini.

Fenomena ini akan terus bergilir dan berkembang serta berubah seiring kemajuan zaman.

Pergolakan itu mencapai puncaknya ketika Wiranadi berdiri di jembatan kota, menatap sungai menghitam yang mengalir tanpa suara. Ia merasa kota ini hidup dari pengorbanan yang tak pernah disepakati. Tiap individu memikirkan jalannya sendiri. Sistem berjalan tak pernah meminta izin. Di bangku parlemen sering ada teriakan, tapi pekik itu hanya berhenti dan menyelinap di lipatan baju.

Ia sadar bahwa bukan satu-satunya korban. Ia adalah bagian dari mekanisme yang terus bergerak di antara ketaatan diam-diam. Ia telah masuk dalam fase di mana empati berubah antipati. Ia tak lagi sebagai individu yang menormalisasi adanya kezaliman terstruktur dan masif. Tapi apalah daya suara kecil itu? Memberontak pun sia-sia. Setiap hari ia bekerja, membayar pajak, patuh, dan menjeda perlawanan. Apa yang bisa dilakukan hanyalah ikut memberi napas pada sistem yang tak pernah sesuai keinginan hati. Menua, lalu mati.

Kota tetap berjalan seperti biasa. Sungai tetap keruh kehitaman karena limbah, baliho tetap tersenyum dalam dusta, dan orang-orang tetap berangkat kerja dengan wajah yang sama. Tak ada resolusi apalagi revolusi, tidak ada perubahan, sebab dunia tak berubah karena satu kesadaran abstrak.

Kota itu tidak runtuh. Pemerintah pun tak jatuh, justru tampak semakin angkuh. Ekonomi tak menunjukkan tanda pulih. Tetapi sesuatu berubah secara tak kasatmata. Orang-orang mulai merasa muak dan tidak nyaman dengan kebiasaan lama. Aturan-aturan pun dibuat secara sembarangan untuk menutupi perilaku naif dan tersembunyi. Kota berevolusi dengan banyak aturan ganjil sekadar untuk menguntungkan segelintir orang tajir.

Dan barangkali, itulah satu-satunya kemenangan terakomodir. Semua yang berjalan bukan perubahan besar nan heroik, melainkan kebiasaan basi yang diulang hingga usang. Dunia sering berubah bukan oleh teriakan, melainkan oleh bisikan bertubi-tubi dari sang pengendali lalu mewujud pada penindasan halus lewat kursi kekuasaan.[]


Berlangganan update artikel terbaru via email:




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2


Iklan Bawah Artikel